Menelusuri Sudut Kota yang Sering Terlupakan
---
## Menelusuri Sudut Kota yang Sering Terlupakan
Kota sering kita bayangkan penuh lampu, gedung tinggi, dan kesibukan yang tak pernah tidur. Tapi di balik wajah megah itu, selalu ada sisi lain—area-area marjinal yang jarang tersorot kamera wisata atau iklan pariwisata. Minggu lalu, saya mencoba berjalan kaki menelusuri sudut itu.
### Lorong Sempit, Cerita Panjang
Saya memasuki sebuah gang kecil di pinggiran kota. Rumah-rumah berdempetan, atap seng berkarat, dan kabel listrik yang semrawut di atas kepala. Di sana, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, tertawa seolah dunia ini milik mereka sepenuhnya.
### Bertemu Ibu Penjual Gorengan
Di ujung gang, saya bertemu seorang ibu paruh baya yang berjualan gorengan dengan kompor kecil. Saya membeli beberapa tahu isi, lalu kami mengobrol.
“Penghasilan kadang cukup, kadang tidak,” katanya sambil tersenyum. “Tapi kalau menyerah, siapa yang kasih makan anak-anak?”
Senyumnya sederhana, tapi dalam sekali.
### Kontras Kota
Yang paling menyentuh saya adalah ketika melangkah keluar dari gang itu. Hanya berjarak beberapa ratus meter, berdiri mal besar dengan lampu terang dan toko mewah. Dua dunia yang berbeda, dipisahkan oleh dinding tak kasat mata.
### Refleksi
Kunjungan singkat ini membuat saya sadar: marjinalitas bukan sesuatu yang jauh. Ia ada begitu dekat dengan kita, kadang hanya satu langkah dari jalan utama.
---
Post a Comment for "Menelusuri Sudut Kota yang Sering Terlupakan"